“Kala kulayangkan pandangan pada dunia yang kini terhampar. Ada haru terlukis memanjang dalam goretan ingatan masa yang telah usang. Aku terpaku kala menerobos waktu mengenang masa yang telah terlewati sejuta kenangan. Suka duka. Terkenang hijau pepohonan di saat diri ini juga hijau belum jauh meniti langkah. Ketika banyak tawa dan canda tertulis pada hari-hari yang bersahaja. Seakan tiada getir menghampiri hidup yang terdominasi satu rasa. Bahagia kekanakan. Nakal dan manja tingkah kehidupan tergurat panjang pada bayang silam. Aku yang telah memagar mental kedewasaan dengan sejumput asa masa lalu. Terkuak lamunan senja. Ditemani ayah bunda penyayang. Tiada rasa selain suka menyelimuti jiwa. Aduhai, mimpi itu indah. Terajut panjang gembira jua. Alam pedesaan tempat kelahiran. Ialah surga kehidupan tanpa beban, tanpa kewajiban. Kepolosan adalah warna. Aku hidup dalam secerah cahaya di kegelapan yang tak kukenali.
Aku pun mematung, memutar cerita yang telah lama terpendam. Kuhias kembali khayalan dengan sebongkah kisah terdahulu. Sekian ruang kelas masa sekolahan. Itulah saksi hidup yang telah mematri seuntai kisah keremajaan. Aku hidup untuk satu pengembaraan baru. Dalam dunia remaja yang akan dimulai, kala itu. Sejumput bahagia terhadir membias dalam realitas pubertas yang kujelang. Siapa yang akan protes pada sekian rasa baru yang tumbuh. Aku dalam dunia baru, kehidupan baru. Ketika cinta dalam hati tersenyum nakal. Dan polesan pengetahuan menguatkan peran. Sebagai manusia baru di belantika kehidupan. Aku sudah dewasa.
Menerjang badai. Kulawan segala lawan, dalam episode pemberontakan. Mencari jati diri. Untuk berdiri di atas kaki sendiri. Memberondong dengan kritikan pada setiap tindakan yang arogan, angkuh menggenggam kenyataan.” (Selasa, 10 Oktober 2006, mengenang jejak-jejak indah menuju ‘remaja’)
Senin, 2 Juni 2008 20.27 waktu Cibulan
Dimulai kembali hidupku dari sini… untuk sebuah perjalanan yang tlah kian jauh kuarungi! ya… semuanya kan kumulai kembali dari sini, tepatnya sejak beberapa hari yang tlah lewat… 20 Mei 2008. Tidak ada yang membedakan antara detik yang satu dengan detik yang lainnya, namun… setidaknya satu momen yang paling mudah kuingat kan membuatku lebih kokoh menggenggam tekad tuk suatu perubahan. Ya itulah momen paling tepat kurasa… di saat usiaku genap 27 tahun, usia yang semestinya menjadi masa puncak dalam tahap menuju kematangan dan kedewasaan. Ya… sekali lagi, inilah aku dalam pengembaraan yang sampai saat ini masih bisa kunikmati, di tempat yang sejuk di bawah gunung ciremai yang menjulang, puluhan kilometer dari tanah kelahiranku…
Selasa, 3 Juni 2008 21.36 dalam suasana labnet yg sedikit gerah…
Tadi sore perasaan banyak banget tuh yang mau kutulis di sini… eh, waktunya malah habis tuk ngecek email dan milis. Ga apa, mudah2an Allah masih ngasih kesempatan buatku ‘bertutur dengan jujur’ di blog yg terlalu sederhan ini…
Oh ya, di blog ini insyaAllah aku mau ungkapin semua perjalanan hidupku (dan mungkin orang-orang yang terkait dengan kehidupanku) semuanya… kecuali yang gak penting2 banget tuk orang banyak tentunya! tapi yang jelas yang akan kuceritakan gak mesti ‘maju ke depan’ (ya iyalah kl maju pasti ke depan)… tapi ‘dijungkir balik’ (istilah mana tuh) dengan episode2 yang telah lewat, termasuk mungkin impian-impian yang belum kesampaian, penting ga sih tuk diungkapin?
“Nikmati hari2 dewasa-mu dengan senyum riang anak2 yang lugu.” Berilah kesempatan pada relung jiwamu tuk sejenak istirahat dari kepenatan… kawan, your time is your life! tiada waktu tuk rehat! tapi renungan pada jejak kehidupan yang telah kau lewati adalah bagian dari keniscayaan hidupmu juga…….. sempatkanlah itu, luangkan waktu tuk membiarkan jiwa bercengkrama dengan tenang, bicara pada waktu yang bisu namun ia ada dan slalu berputar… (ngelantur ga nih, ngantuk kali? bersambung aja yach…)
Rabu, 11 Juni 2008 16.14 di senja yang bersahaja…
Kebiasaan ‘menggoreskan pena’ yang dulu hampir tak pernah terlewatkan dalam detik keseharian kini jarang kulakukan, entahlah… malas atau emang ga ada waktu. Oh ya… ini ada sedikit coretan yang mungkin ‘tidak terlalu privasi’ tuk kutayangkan di sini. Terima kasih tuk siapapun yang telah dan pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku, pengalaman adalah modal yang paling mahal tuk merentas masa depan…
Selasa, 30 Agustus 2005
Hari ini, Selasa 30 Agustus 2005. Bumi yang kutempati masih yang dulu. Mentari yang menghangatkan tubuhku pun masih yang dulu. Kehidupan pun kuyakini masih terus berputar, karena masih kutemui pertukaran siang dan malam. Tak ada yang kuragui dari apa yang dinamakan kehidupan. Kata yang sangat pendek namun menyiratkan makna seluas lautan tak bertepi. Ia ada untuk manusia tanpa minta untuk disifati dan digambarkan sesederhana apapun. Satu yang mesti diingat: mau tidak mau, suka atau pun tidak, kehidupan itu sedang kita jalani dan harus dijalani, karena kita terlahir untuk mengusung peran di panggung kehidupan.
Kehidupan. Panggung sandiwara bagi manusia-manusia yang menjadi lakon tanpa alur dan skenario. Cerita tanpa makna bagi yang tak memahami keinginan sang sutradara. Kehidupan adalah ring tinju bagi mereka yang mengenal lelah dan arti kerja keras. Harus memukul jika tidak mau dipukul. Harus menang jika tidak mau jadi pecundang. Selain itu, kehidupan bukan sebatas menang dan kalah ataupun benar dan salah. Ia ada untuk menjembatani manusia menuju gerbang keabadian. Definisi apa pun tentang kehidupan, ia ada bukan sekedar untuk ditafsirkan. Tapi, sekali lagi: untuk dijalani dan harus dijalani.
Wahai hari-hariku yagn telah lewat, mengapa kau biarkan aku pergi mewujud di hari ini? Bukankah tak pantas aku berada di hari yang mungkin tak akan suka dengan kehadiranku. Telah berlalu hari-harikuu dengan kekejaman dan kebengisanku pada mereka. Aku telantarkan waktu-waktu bernama hari itu tanpa ada nilai bersamanya. Aku hanya mengendaraianya tanpa seperserpun bayaran kuberikan padanya. Oh, hari-hariku….
Sebesar apapun penyesalan yang menyesaki jiwa ini, tak akan pernah mengembalikan hari-hariku yang telah berlalu meninggalkan kelam berkepanjangan. Penyesalan hari ini adalah keterpurukan masa di depan mata. Menghadapi hari esok dengan langkah tanpa sesal adalah keniscayaan yang akan menghapus kelam itu.
Minggu, 1 Januari 2006 di tahun baru yang tak terlalu indah…
Tahun baru. Ga ada yang beda. Minimal untuk memanfaatkan momentum ini biasanya ada suatu tekad baru dipancangkan, ditambah suasana meriah di tengah malam yang diakhiri dengan shalat tahajud dan munajat do’a pada Illahi untuk memasuki tahun baru masehi. Itu dulu, sebelum kehadiran isteri dan anak dalam kehidupanku. Kuningan dan Jakarta, itulah dua tempat di mana aku ga pernah kelewat untuk menjadikan momentum pergantian tahun sebagai ajang muhasabah diri diteruskan dengan recharge semangat menuju hari-hari yang baru. Bukan berarti ikut merayakan tahun baru, tetapi sebatas mempermudah pengingatan pada satu titik waktu di mana biasanya akan ada suasana yang berbeda untuk memulai sesuatu hal yang baru. Tiga kali tahun baru, itu yang kualami setelah detik pernikahanku. Berarti tiga kali pergantian tahun sudah terjadi. Adakah yang berubah dalam perjalanan rutin kehidupanku? Entah dengan barometer apa aku bisa mengatakan bahwa kesuksesan itu telah kuraih. Yang mudah justru mencari bukti-bukti bahwa aku sedang berada di titik terendah dari sebuah spirit kehidupan yang selama ini (dulu) senantiasa aku gaungkan.
Tahun baru 2006, tak banyak yang bisa kuharapkan. Namun, impian dan harapan tak akan pernah padam selamanya. Aku hanya percaya, bahwa waktu akan membuktikan – dengan seizin Allah – bahwa setitik perjuangan pun yang telah aku jalani akan membuahkan hasil walau hanya secuil dari sekian bukti kesuksesan.
Selasa, 3 Januari 2006
Ada getaran jiwa yang kurasakan ketika kurenungi perjalanan kehidupan sampai detik ini. Ada kesadaran diri dari lubuk hati yang terdalam. Berujung pada saatu kesimpulan: aku mesti kembali merenovasi bangunan motivasi yang mulai runtuh berjatuhan di tengah jalan menuju gerbang sukses masa depan.
Kehidupan ini telah membawaku pada satu alur sejarah yang tak akan pernah bisa ditolak dengan ungkapan rasa sesal. Kekecewaan justru akan menjadi titik balik sebuah kegagalan besar di masa depan. Satu hal yang sangat penting aku lakukan adalah: menatap masa depan dengan senyum keyakinan, menghiasi hari-hari dengan kebahagiaan melalui tol perjuangan, menata setiap pengorbanan agaar menjadi buah manis di masa yang tak bisa diramal kapan titik akhirnya.
Perjuangan ini sebagaimana alur roda kehidupan berjalan akan senantiasa menjadi sebuah keniscayaan, tempat untuk menguji manusia dan menentukan satu di antara dua pilihan: sukses atau gagal. Ya, kehidupan tak lebih dari suatu proses tes kemampuan diri untuk menentukan lolos tidaknya memasuki gerabang kehidupan yang baru suatu saat nanti di akhirat yang abadi. Tak ada kata terlambat bahkan mundur dari area perjuangan ini. Selama ujian masih selalu ada mendera setiap detik kehidupan kita, selama itu pula kehidupan ini masih berjalan sampai suatu waktu yang telah ditentukan dan bersiap menuju kehidupan yang lain yang lebih panjang.
1 Agustus 2006, entah hari apa.. ketika kutulis ungkapan hati ini, jam menunjukkan pukul 11.32 menjelang dzuhur.
Jangan ada lagi duka terdampar di pantai jiwa ini. Kuingin angin sejuk kedamaian selalu hadir mengipasi diri yang lelah. Banyak harapan yang ingin kuhamparkan pada permadani kehidupan yang tak lpernah lepas dari hiasan indah fatamorgana. Tipuan mata pembuat lupa dari asa dan cita yang hendak diraih. Aku ingin pergi, tapi tak ingin berlari terlalu kencang… kecuali menuju padang luas yang menawarkan keabadian makna kehidupan. Lalu kutulis sebuah sajak hati yag tka kakd
Kamis, 7 September 2006
Biarlah ada sejumput bahagia terhampar. Walau realitas hidup yang terhadir kerap menampakkan rona wajah kegelapan, tapi cahaya itu tetaplah bersinar. Jangan ada luka, jangan ada nista. Kegalauan jiwa biarlah pergi meninggalkan jejak-jejak tak pasti.
Angin september bersua jua dengan setitik asa di pembaringan. Hidup adalah perjuangan. Itu adalah ungkapan pendorong asa yang hampir hilang. Ia hadir dalam kebimbangan. Ia datang menepis keraguan. Hidup harus terus berlanjut. Walau asa hampir hilang dari genggaman.
Selasa, 31 Oktober 2006
Perjalanan hidup ini telah sampai pada suatu masa, mengikuti alur dari skenario yang telah dirancang oleh Sang Sutradara Agung, Allah SWT. Semestinya, waktu ini bergulir tanpa meninggalkan sesal dan rasa kecewa, karena ia hanyalah tunggangan sementara sebelum sampai pada titik akhir dari pengembaraan di dunia fana ini.
Sejarah tercipta karena manusia ada dan diiringi dengan karya. Sejarah memanjang membentuk ragam skenario unik kehidupan. Ia pun terhadir seiring polah dan tingkah manusia. Biarlah alur ini mengalir mengikuti rasa di sukma yang terus bergema. Karena ini adalah kehidupan. Perlu dirasa, perlu direnungkan! Sejarah telah sampai pada detik ini, episode pengembaraan ini…
Sabtu, 13 Januari 2007
Bismillah, sebuah awal yang baik. Semoga! Kehidupan masih berputar… aku masih berada di jalur yang benar. Setidaknya itu yang kurasakan dan kuyakini. Puji syukur pada Allah yang telah memberikan kekuatan segalanya untuk bisa melewati detik-detik kehidupan.
Sejak hari Ahad, 10 Desember 2006, aku menjadi bagian keluarga besar SIT Al-Multazam. Sebuah skenario Allah yang sungguh tak pernah kuduga sebelumnya. Bahkan hal ini mungkin dan semoga menjadi suatu langkah besar untuk kembali memperbarui langkah-langkah yang goyah di episode kehidupan sebelumnya. Hingga sekali lagi harus kucamkan dalam diri ini bahwa ini semua adalah: skenario besar Allah! Semoga episode kehidupan yang akan kumasuki ini – bahkan telah kumasuki – menjadi bagian berharga dalam perjalanan sejarah hidupku kelak.
Oh ya, hari ini aku ikut pelatihan CTL (Contextual Teaching and Learning) tempatnya di Aula SDIT Al-Multazam dan diikuti oleh seluruh guru SIT. Lumayan, pembekalan yang cukup memberikan motivasi dan juga pencerahan menjelang proses belajar mengajar Senin nanti. Oh iya, aku insya Allah diberi amanah untuk mengajar di SMPIT. Terima kasih Allah atas skenario-Mu!
Ahad, 14 Januari 2007 pukul 19.20, Villa Cibulan
Sedang apakah dikau wahai istriku? Kamu ingat aku kan… andai kau di sisiku saat ini, akan kutumpahkan rasa ini dan kurangkai lewat kata: aku mencintaimu! Ah, cinta. Cinta yang menyatukan sepasang insan, begitu indah terdengar. Semoga Allah tetap mengokohkan cinta kita wahai istriku.
Aku bertekad jika semua yang telah dan sedang kulakukan adalah karena rasa cinta di hati ini wahai istriku, walau tak semuanya menjadi indah buatmu. Ingin kuraih asa dan cita itu bersamamu. Ingin kubangun rumah tangga yang kokoh menggapai sakinah mawaddah wa rahmah. Semoga kelak kita bersama anak cucu kita menuju keridhaan Allah bertemu di surga-Nya yang kekal abadi
Semoga kau baik-baik saja istriku! Wajahmu dan anak kita adalah pengingatku akan amanah yang telah Allah berikan. Begitu besar tanggung jawabku, semoga kau paham, sayang! Sebagaimana kuingin selalu ridha padamu, aku juga berharap kau kan menjadi bidadari yang abadi di hatiku. Penerang hidupku di saat gelap menjelma. Kau adalah cintaku sekaligus hidupku. Bukankah Allah telah menetapkan sosok istri sebagai penenang jiwa, penyejuk kalbu. Semoga kerinduan kita bersatu untuk menuju cinta hakiki, meraih mardhatillah.
Maafkan aku, istriku! Bila kuterlalu pelit berterima kasih padamu. Kuterlalu jarang membanggakanmu. Semoga kau percaya jika keberadaanmu di sampingku adalah sesuatu yang paling berarti dalam hidupku. Mungkin terlalu jarang kuberucap sayang padamu, tapi hati ini sudah terlalu sayang padamu, dan pada anak kita.
Andai kau tahu, jika semua yang kulakukan selama ini karena cinta. Mungkin iya jika aku egois dengan segala keinginanku, harapanku, cita-citaku dan segala mimpi-mimpiku, sayang… tapi, aku hanya ingin membawamu pada puncak hidup itu, istriku! Semoga pengorbananmu, untuk menerimaku apa adanya, marah, kecewa, sakit hatimu padaku menjadi keshalehan buatmu. Hanya yang perlu kau tahu, sekali lagi, aku mencintaimu.
Sabtu, 24 Maret 2007 pukul 00.18 menit, waktu cibulan
Kehidupan, kupanggil kau dalam kesepian ini. Segudang rasa telah penatkan penantian akan sebuah ujung yang indah. Adakah secuil harapan tersisa untuk seonggok tubuh yang mungkin telah menjadi begitu lemah. Jikalah, sebuah perumpamaan kecil mesti dihadirkan, mungkinkah cukup semua itu untuk melukiskan… sejuta bias kehidupan. Memanjang lewat deretan peristiwa. Tersirat lewat kelabunya kalbu dan hampanya jiwa yang terhimpun dalam satu ragam suasana bathin yang beku. Bahkan ketika putaran jarum jam terus berputar, seiring terus bergulirnya episode hidup. Dan goresan sejarah tercipta… kegundahan ini tetap mematung dalam sunyi. Tanpa arti, sebagai satu paragraf yang bisu.
Angin, hembusan semilirmu yang kunanti. Dalam sepenggal episode gelisah… dalam segores pilu rasa jiwa. Ada teriak yang tak tertumpahkan lewat suara. Ada ungkapan yang tertahan oleh serentetan duka yang memanjang. Siang telah usang dan malam datang menjelang, tapi ujung malam kini berganti awal hari yang baru. Suara kehidupan itu belum jua terdengar. Di rongga dunia sarat damai… di penantian akhir sebuah harapan. Mungkinkah kan kupetik sebait hikmah agung… dalam selembut ketulusan pasrah, menengadahkan dua telapak tangan penuh do’a. Ketika takdir mematrikan kepastian yang tidak memanjakan. Dan aku masih di sini. Terpaku.
Sabtu, 19 Mei 2007 18.30 waktu gang krikil, Kuningan.
Sebuah peringatan kembali dialamatkan ke arahku. Menyentakkan kesadaran, jika kini ingatan tentang usiaku yang terus berkurang kembali terhadir. Jatah hidupku di muka bumi ini kian menipis seiring terus berputarnya roda kehidupan. Usiaku akan segera genap dua puluh enam tahun, usia yang semestinya telah melewati usia kedewasaan dan kematangan menuju masa keemasan yang penuh dengan kebijaksanaan, sebagai seorang ayah bagi anakku dan memimpin keluarga dengan keteladanan.
Tiada yang mesti diistimewakan, selain menjadikan saat ini sebagai momentum untuk kembali mengumpulkan segenap kesadaran akan hakikat hidup ini. Ya, memang pemahaman akan hidup ini menuntut untuk terus diperbarui setiap saat. Gemerlap kehidupan senantiasa melenakan hati sehingga terpaling dari makna sebuah hakikat kebenaran. Di sisi lain, kekecewaan dan penyesalan atas peristiwa duka yang menimpa terkadang membuat jiwa terlupa pada sang Pencipta. Rasa syukur yang semestinya terhadir setiap saat telah berganti dengan pengingkaran yang begitu sering dibiasakan. Betapa tidak, waktu sebagai harta termahal bagi seorang manusia, telah banyak kulewatkan dengan kesia-siaan, terbuang percuma.
Ya Allah, semoga tambahan hari buatku akan benar-benar menjadi modal berharga mengejar ketertinggalanku mengerjar jannah-Mu. Semoga Kau kuatkan jiwa ini untuk menghadapi segala peristiwa yang terjadi dalam setiap episode kehidupanku. Suka maupun duka. Berilah kebarakahan dalam bahtera rumah tanggaku, tunjuki kami ke jalan-Mu yang lurus. Ampuni segala dosa yang dengan sengaja atau tanpa sengaja telah kuperbuat. Jauhkanlah kami dari murka-Mu ya Allah. Berkahilah sisa usiaku ini. Semoga. Amin.
Ahad, 20 Mei 2007 – Ruko, 21 Mei 2007, 02.03 waktu Gang Krikil.
Kebahagiaan, datanglah! Ataukah…? Ia tetap mesti aku cari dengan tertatih, dengan cucuran air mata, dan dengan penantian… Aku rindu, begitu aku ingin merasakan barang sejenak makna kebahagiaan sebenarnya yang kuimpikan. Tidakkah ia begitu mahal kuhargai untuk kudapatkan dengan mudah? Yang kutahu, ia… kebahagiaan itu… begitu dekat! Bukankah ia ada di hati. Oh, hatiku… mengapakah begitu jarang kebahagiaan terhadir padamu!
Dua puluh enam tahun usiaku kini, hampir empat tahun pernikahan telah kuarungi. Semua mengisyaratkan sebuah keniscayaan bagiku untuk: lebih dewasa! Dewasa dalam pemikiran, tindakan dan respont terhadap segala peristiwa yang terjadi, suka maupun duka. Oh ya, termasuk dewasa dalam memahami dan memaknai damai serta kebahagiaan dalam hidup ini. Aku tak ingin penantian ini selalu lekat dengan kekecewaan. Di manakah kau, kebahagiaan! Ketika dua puluh enam tahun alur hidup ini berjalan, ketika empat tahun peran suami dan ayah aku lakonkan. Ah, begitu sulit kau kudapatkan, begitu jarang kau muncul di bilik hati ini saat segala peristiwa itu terjadi. Kecuali mungkin, dalam momen yang teramat sedikit!
Aku seorang melankolis, terlahir dengan segala keunikan. Walau tentunya, dengan segudang kekurangan diri yang tak sedikit melahirkan banyak kekecewaan. Aku bisa merasakan bahagia itu saat segala kebutuhan sebagai pemilik kepribadian itu terpenuhi. Aku bahagia kala aku rasakan ketenangan suasana. Aku bahagia ketika aku bisa menyusun segala rencana dan tak kulihat seorang pun menyalahkannya, dan aku kecewa ketika aku sekalipun yang melanggarnya. Aku senang, aku puas dengan segala idelisme yang kumiliki. Aku bahagia dengan segala cita-cita tinggiku, harapan-harapanku, impianku, bahkan khayalan-khayalanku. Tercapai atau pun tidak, yang jelas aku tak pernah merasa sedih selama proses meraih semua itu masih berlangsung. Aku hidup dengan keyakinan, bahkan aku pun hidup dengan spekulasi, mengambil resiko yang kadang orang tak mengerti. Ya, terlalu banyak keanehan pada diriku, yang aku sendiri menyebutnya sebagai keunikan yang berharga. Semoga.
Tapi, setidaknya… selama rentetan peristiwa dalam waktu dua puluh enam tahun yang telah kulewati, keunikan itu setidaknya telah menjadi warna yang sangat indah dalam hidupku. Dengan keunikan itu aku bisa hidup sebagai aku, diriku sendiri! Walaupun, secara keseluruhan hidup selama ini bisa kusimpulkan jika aku terlalu sering berada dalam ketakutan… untuk menjadi seperti diriku sendiri!
Seorang aku, seperti diriku, yang selalu ingin meraih kesempurnaan dalam segala hal, ketenangan adalah sesuatu yang mutlak harus terpenuhi. Suasana hati adalah kunci untuk menemukan sebuah perasaan senang dan gembira. Perasaan, ya, hidupku bergelut dengan perasaan. Tak salah, karena tipe kepribadian sepertiku, akan sangat mengandalkan pemikiran, analisis, rencana dan ambisi yang besar untuk mencapai idealisme tinggi. Jadi, sekali lagi, suasana hati dan ketenangan adalah sesuatu yang harus diutamakan sebelum yang lain.
Satu hal lagi, yang paling pokok, yang paling aku butuhkan dalam hidup ini. Ia adalah, pengakuan, penghargaan dan dukungan. Ya, sebuah pengakuan akan eksistensiku dengan kelebihan dan kekurangan yang kumiliki, penghargaan akan segala keunikan yang kumiliki, dan dukungan tulus yang tak sekedar dipendam dalam hati, tapi betul-betul diekspresikan, dimunculkan dalam kata-kata dan ungkapan yang membangkitkan motivasi. Setelah kekuatan keyakinan pada idealisme cita-cita yang bergelora, hal-hal itulah yang paling aku butuhkan saat ini, untuk membangun sukses hidupku…!
Jika ada orang yang mampu memberikan hal itu, pengakuan, penghargaan dan dukungan yang tulus yang diungkapkan, maka itulah orang yang telah memberikan kebahagiaan dalam hidupku. Itulah orang yang telah memberikan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Jikalah ada… itulah sesungguhnya orang yang paling berhak mendapatkan ungkapan terima kasih terbesar dariku. Ia berhak mendapatkan hadiah teristimewa, bahkan ia akan menjadikan rasa cinta dan sayang ini menjadi miliknya, oh… mungkin! Tapi, memang itu yang terjadi, rasa cinta ini mungkin hanya bisa kuberikan pada orang yang telah memberikan hal-hal seperti itu bagi hidupku.
Masa kecil yang tanpa beban setidaknya telah menjelmakan sebuah episode bahagia dalam hidupku. Kesenangan yang penuh kurasakan, karena masa itu belum kukenal makna sebuah hak dan kewajiban, pahala ataupun dosa. Ya, itulah sekelumit kebahagiaan dalam kepolosan masa kanak-kanak yang sampai saat ini masih tetap membekas dengan jelas. Namun, masa setelah itu, setelah masa remaja yang penuh romantika, penuh kenangan indah, pemahamanku akan hakikat hidup telah membawaku pada dunia lain yang mengharuskan aku mengenal dan memahami hak dan kewajiban. Menimbang sesuatu dengan pahala dan dosa yang mungkin kuperoleh di akhirnya. Sejak itulah, kedewasaan adalah sesuatu yang harus senantiasa aku tingkatkan dan aku perbarui, karena ternyata: hidup terus berputar dan usia kian berkurang.
Puncaknya, ketika pemahamanku akan hidup ini, tentang hak dan kewajiban, tentang pahala dan dosa, serta tentang cita-cita dan asa hidup ini yang sebenarnya, maka saat itulah aku membutuhkan seseorang yang akan senantiasa berada di sampingku, memberikan segalanya yang kubutuhkan. Sekali lagi, yang kubutuhkan adalah pengakuan, penghargaan dan dukungan yang tulus dari seseorang yang tentunya juga bisa memberikan kasih sayang, cinta dan perhatian secara penuh padaku. Ya, aku membutuhkan cinta dan kasih sayang karena itu fithrah sekaligus salah satu kebutuhan pokok setiap manusia. Yang membedakan adalah pemahamanku akan arti cinta itu. Aku tidak mendapatkannya dari sebuah kebebasan yang selalu dilakukan para remaja, tapi aku mendapatkannya dari sebuah pemahaman akan hakikat hidup ini yang sebenarnya.
Dan tejadilah, harapan itu terpenuhi. Seseorang yang paling dekat dalam hidup ini, seorang isteri, selama hampir empat tahun sampai saat ini, telah mendampingi dan melewati hari-harinya bersamaku. Menemaniku dalam perjuangan, dengan sejuta peristiwa suka maupun duka, dalam bahtera rumah tangga, dalam hidup ini! Sudahkah segalanya terpenuhi? Sudahkah kebahagiaan itu kudapatkan? Puji syukur pada-Mu ya Allah atas sejuta bahagia yang telah Engkau simpan di jiwa ini di masa-masa hingga detik ini sejak aku menggenapkan separuh dienku, meski kumasih begitu ‘haus’ dengan bahagia-bahagia yang lain dalam kehidupan ini. Pada akhirnya, harus selalu ada kesabaran dan pengorbanan dalam setiap perjuangan. Aku berserah diri pada-Mu ya Allah!
Assalamu’alaykum
syukron link-nya ya. salam kenal juga ya.
to mia: itu fasilitasnya ada di editor teksnya… cari aja pilihan ‘page break’ atau ‘more’ (gambar garis horizontal). Letakin kursornya di tempat yang mau dipotong trus di klik ikon yang tadi saya bilang.
To Jaudy: hehehe… maap lupa… siapa ya?
Salam kenal, ini kunjungan balasan
Salaam kenal. anak hk angk brpa yah… from masslamet.com hk 3
Agustus 31, 2008 pada 12:22 pm
lam kenal.
mo nanya, gimana sih caranya bikin supaya isi postingan ga langsung keluar semua, tapi cukup daftar judulnya saja, baru kalo di-klik bisa menampilkan isi, kayak punya mas?