BANDAR LAMPUNG, RABU – PT PLN (Persero) Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban Sumatera (P3BS) Unit Pelayanan Teknis Tanjungkarang memastikan dua jalur transmisi 150 KVA di Lampung rawan pencurian besi menara. Itu dilihat dari aksi pencurian 490 besi menara di salah satu jalur tersebut pada Senin (8/9).
“Kami menduga, motif pencurian adalah sebagai akibat desakan ekonomi,” ujar Manajer P3BS PT PLN (Persero) UPT Tanjungkarang Sugiono, Rabu (10/9).
Sugiono mengatakan, penyaluran listrik di Lampung diawali dari wilayah Baturaja Sumatera Selatan hingga Kalianda Lampung Selatan. Penyaluran daya yang tergabung dalam interkoneksi Sumatera Bagian Selatan itu menggunakan system transmisi saluran udara tegangan tinggi (SUTT) 150 KVA dan disangga dengan menara besi yang terbuat dari baja galvanis anti karat.
Di jalur transmisi BaturajaKalianda terdapat beberapa koridor penyaluran. Dua koridor penyaluran Tarahan BaruKalianda dan jalur KotabumiMenggala merupakan jalur yang paling rawan pencurian.
Di jalur Tarahan BaruKalianda, pencurian besi menara SUTT 150 KVA banyak terjadi di desa Tarahan dan Babatan, Lampung Selatan. Sedangkan di jalur Kotabumi Menggala, pencurian besi menara SUTT banyak terjadi di Desa Bernah, Muara Jaya, Talang Batik, dan Banjar Agung, Kotabumi, Lampung Utara.
Model pencurian yang terjadi, para pencuri menggergaji besi menara sehingga ujung besi yang dikencangkan dengan baut akan tertinggal. Modus lainnya, pencuri menggunakan mesin las untuk memotong besi baja galvanis tersebut. Para pencuri juga bisa mengambil besi dengan cara merusak baut besi sehingga dengan mudah diambil.
Menurut Sugiono, pencurian yang baru saja terjadi adalah di Desa Suban, Kecamatan Merbaumataram, Lampung Selatan. “Laporan yang kami terima, sebanyak 490 batang besi tower dari tujuh tower di jalur Tarahan BaruKalianda hilang dicuri masyarakat pada Senin (8/9) antara pukul 11.30,” ujar Sugiono.
Laporan pencurian diketahui berdasarkan laporan Sariman, petugas lapangan yang bertugas mengontrol menara-menara SUTT di jalur tersebut. Saat mengontrol menara-menara ia melihat batang besi yang berfungsi sebagai siku-siku menara sudah hilang. Itu dilihat dari rusaknya baut batang besi.
Total kerugian yang dialami PT PLN (Persreo) P3BS UPT Tanjungkarang sekitar Rp 175 juta. Itu sudah termasuk nilai besi yang hilang dan pemasangan kembali besi menara.
Menurut Sugiono, pencurian semacam itu banyak terjadi, tidak hanya di Lampung melainkan juga di seluruh Sumatera. Kebanyakan, pencurian didorong desakan ekonomi.
Apalagi, harga besi baja galvanis tergolong mahal dibandingkan dengan besi tua. Di pasaran besi baja galvanis dijual dengan harga Rp 28.000 per kilogram, sementara besi biasa dijual Rp 5.000 per kilogram.
Untuk mengatasi pencurian, PT PLN (Persero) sudah bekerja sama dengan tokoh-tokoh masyarakat desa tempat menara berdiri. Perusahaan juga sudah mempekerjakan pengawas menara yang berasal dari desa tempat menara berdiri. Namun demikian, masyarakat yang terdorong desakan ekonomi, terutama di musim paceklik, tetap memilih mendapatkan pendapatan dengan cara cepat.
Menurut Sugiono, masyarakat harus memiliki kesadaran, menara SUTT itu bukan obyek pendapatan. “Justru, apabila besi-besi dicuri, menara berpotensi roboh dan listrik bisa padam. Ini yang sering tidak disadari masyarakat,” ujar Sugiono.
Sumber: kompas.com
September 11, 2008 pada 10:14 am
terima kasih sharing info/ilmunya…
saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
silakan berkunjung ke:
http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html
semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…
salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/